KEDIRI – Parade Cikar 2026 di Kabupaten Kediri tidak hanya menjadi momentum pelestarian budaya dan transportasi tradisional, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan potensi peternakan serta produk pangan lokal kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut mendapat perhatian karena menggabungkan unsur budaya, peternakan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Kebutuhan terhadap produk peternakan seperti daging, susu, dan telur yang masih tinggi dinilai menjadi peluang ekonomi yang dapat terus dikembangkan, termasuk melalui produk olahan.
Pemerintah Kabupaten Kediri juga melibatkan generasi muda dalam kegiatan tersebut. Sekitar 50 siswa SDN 1 Wonosari diajak mengikuti parade dengan menaiki cikar. Sebelum kegiatan dimulai, para siswa memperoleh edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi produk peternakan, mulai dari telur dan susu hingga olahan daging.
Sebagai bagian dari kampanye pemanfaatan produk peternakan lokal, panitia turut membagikan sekitar 2.000 butir telur rebus kepada masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengatakan aspek kesehatan hewan menjadi perhatian utama sebelum parade digelar. Seluruh sapi peserta telah menjalani pemeriksaan oleh petugas kesehatan hewan.
Dari proses pemeriksaan tersebut, terdapat sapi yang dinyatakan tidak memenuhi persyaratan sehingga tidak diikutsertakan. Dalam pelaksanaan parade, sekitar 86 ekor sapi tampil bersama 43 cikar.
“Pada deadline terakhir pendaftaran, petugas kesehatan hewan kami melakukan pemeriksaan ke lokasi masing-masing. Kami memastikan kondisi kesehatan sapi dan tidak ada indikasi penyakit hewan menular, karena kegiatan ini berlangsung di ruang publik,” ujar Tutik.
Sapi yang mengikuti parade mayoritas merupakan Peranakan Ongole (PO), Brahman, dan hasil persilangan. Hewan tersebut telah dilatih untuk kegiatan parade dan bukan ditujukan sebagai sapi penggemukan.
Parade menempuh rute sekitar 5,5 kilometer. Selama perjalanan hingga garis finis, tidak terdapat laporan sapi mengalami gangguan kesehatan.
Selain kondisi sapi, peserta juga dinilai berdasarkan performa sapi, kreativitas cikar, serta kelengkapan aksesori dan muatan lokal. Berbagai produk pertanian dan peternakan Kabupaten Kediri turut ditampilkan pada masing-masing cikar, sehingga parade sekaligus menjadi etalase potensi ekonomi masyarakat.
Saat ini, keberadaan cikar masih bertahan di sekitar 10 kecamatan di Kabupaten Kediri. Kecamatan Wates dan Ngadiluwih tercatat menjadi wilayah dengan jumlah peserta relatif banyak, masing-masing sekitar 10 hingga 11 peserta.
Tutik berharap kegiatan tersebut dapat menjaga keberlangsungan budaya lokal sekaligus memberikan apresiasi kepada para peternak yang masih mempertahankan tradisi memelihara sapi dan menggunakan cikar.
“Harapan ke depan, budaya-budaya yang ada di Kabupaten Kediri terus dilestarikan dan diuri-uri, sehingga generasi sekarang juga mengetahui kebudayaan masa lalu. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi apresiasi bagi para peternak yang terus mempertahankan tradisi sekaligus semangat memelihara sapi,” pungkasnya.
Parade Cikar 2026 menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat terus hidup ketika dipadukan dengan edukasi, potensi peternakan, dan keterlibatan generasi muda. Bagi Kabupaten Kediri, kegiatan ini sekaligus menjadi upaya menjaga warisan budaya sembari memperkenalkan potensi ekonomi peternakan kepada masyarakat secara lebih luas.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!