Kamis, 01 Oktober 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi?

Redaksi Redaksi • 02 Sep 2026 • 50 • 0 • 3 menit
Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi?

JAKARTA, Agrinews.com— Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kelapa, tetapi data impor justru menunjukkan fenomena yang patut menjadi perhatian. Dalam periode Juni 2025 hingga Juni 2026, impor santan dari Singapura tercatat mencapai 27.489 ton.

Besarnya volume tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa kebutuhan santan olahan di dalam negeri masih harus dipenuhi melalui impor ketika bahan bakunya tersedia di Indonesia?

Berdasarkan data BPS yang menjadi dasar laporan tersebut, arus impor terbesar masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Setelah pengiriman awal sebesar 0,06 ton melalui Bandara Soekarno-Hatta pada Juni 2025, volume mulai meningkat pada September dan Oktober.

Pada November 2025, impor melonjak menjadi 4.885,05 ton. Sebulan kemudian, Desember mencatat angka tertinggi, yakni 11.741,19 ton.

Memasuki 2026, arus impor kembali berlanjut. Januari tercatat 3.737,78 ton, kemudian turun menjadi 545,05 ton pada Februari. Namun pasokan kembali meningkat pada April sebesar 1.824,55 ton, Mei 2.058,88 ton dan Juni 2.411,87 ton.

Pertanyaan Besarnya Bukan Sekadar Impor

Lonjakan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa produk santan lokal kalah bersaing. Ada sejumlah faktor yang perlu diperiksa, mulai dari spesifikasi produk, kebutuhan industri, harga, kualitas, kapasitas produksi hingga efisiensi rantai pasok.

Namun, angka impor tersebut tetap layak menjadi bahan evaluasi serius. Sebab, jika industri dalam negeri mampu mengolah kelapa lokal menjadi santan dengan harga, kualitas dan kontinuitas pasokan yang kompetitif, maka peluang menciptakan nilai tambah sebenarnya terbuka lebar.

Masalahnya, tanpa data lebih rinci, publik belum bisa memastikan apakah impor terjadi karena produksi lokal tidak mencukupi, kebutuhan industri tertentu, persoalan harga, atau faktor perdagangan lainnya.

Jangan Sampai Petani Hanya Menjual Kelapa, Nilai Tambahnya Hilang.Fenomena impor santan juga menyentuh persoalan klasik sektor pertanian: petani menghasilkan bahan baku, tetapi nilai tambah terbesar berada pada tahap pengolahan dan pemasaran.

Jika kebutuhan pasar domestik terus tumbuh, penguatan industri pengolahan kelapa di dalam negeri menjadi penting. Bukan hanya untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, tetapi juga membuka pasar yang lebih luas bagi petani kelapa.

Pemerintah dan pelaku industri perlu melihat data impor ini sebagai sinyal untuk memperbaiki ekosistem hilirisasi—mulai dari produktivitas kebun, kepastian bahan baku, teknologi pengolahan, pembiayaan, standardisasi hingga akses pasar.

Indonesia tidak kekurangan kelapa. Yang harus dipastikan adalah jangan sampai Indonesia hanya menjadi tempat produksi bahan mentah, sementara produk bernilai tambah justru kembali masuk dari luar negeri.

Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata impor atau tidak impor, tetapi apakah potensi kelapa nasional sudah benar-benar mampu menciptakan kesejahteraan lebih besar bagi petani dan industri dalam negeri.

Sumber: FxPro 

— Iklan — SELAMAT MAULID NABI MUHAMMAD
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!