Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi PetaniLalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual PotensiIroni Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi?Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut PerbaikanStudi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di WilayahnyaPertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi PetaniLalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual PotensiIroni Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi?Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut PerbaikanStudi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya
Pakistan Pecahkan Rekor Impor CPO, Pengusaha Sawit RI Optimistis Peluang Ekspor Kian Besar
Redaksi AIN
• 02 Aug 2026• 61• 0•3 menit
Jakarta – Agri Indonesia News (AIN) – Pakistan mencatat sejarah baru dengan membukukan rekor tertinggi impor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan produk turunannya pada tahun fiskal 2025/2026. Capaian ini menjadi kabar positif bagi industri kelapa sawit Indonesia yang selama ini menjadi pemasok utama kebutuhan minyak sawit negara tersebut.
Berdasarkan data perdagangan Pakistan, impor minyak sawit sepanjang periode Juli 2025 hingga Juni 2026 mencapai 3,482 juta ton dengan nilai sekitar US$3,785 miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan permintaan minyak nabati di Pakistan terus bertumbuh.
Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai pemasok terbesar, dengan memenuhi sekitar 80–90 persen kebutuhan impor minyak sawit Pakistan. Peningkatan konsumsi minyak goreng, pertumbuhan jumlah penduduk, serta keterbatasan produksi minyak nabati domestik menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan impor tersebut.
Pelaku usaha sawit Indonesia menyambut positif perkembangan ini. Meningkatnya permintaan dari Pakistan dinilai membuka peluang ekspor yang lebih besar sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional. Selain meningkatkan devisa negara, kondisi tersebut juga diharapkan berdampak pada stabilitas permintaan tandan buah segar (TBS) dari petani sawit di dalam negeri.
Di sisi lain, Pakistan masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan produksi minyak nabati domestik. Ketergantungan terhadap impor diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan sehingga Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk memperkuat kerja sama perdagangan di sektor sawit.
Bagi Indonesia, pasar Pakistan kini menjadi salah satu tujuan ekspor paling strategis setelah India. Tren peningkatan ekspor sawit ke negara tersebut menunjukkan bahwa produk sawit nasional masih memiliki daya saing tinggi di pasar global, didukung kualitas produk serta hubungan dagang yang terus berkembang.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!