BANGKA BARAT – Pengembangan pariwisata di Kabupaten Bangka Barat mulai diarahkan tidak hanya bertumpu pada destinasi alam, tetapi juga pada kekuatan sejarah, budaya, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan jajaran Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Kabupaten Bangka dan Bangka Barat bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangka Barat.
Pertemuan yang berlangsung di Yasminstar Hotel Mentok, Senin (24/8), menjadi ruang silaturahmi sekaligus pembahasan mengenai peluang memperkuat ekosistem pariwisata daerah. Kegiatan tersebut diinisiasi General Manager Yasmin Group di Mentok, Henri Hermawan.
Kepala Disbudpar Bangka Barat, Fachriansyah, menyambut positif pertemuan tersebut. Menurutnya, kekayaan sejarah dan budaya daerah memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi bagian penting dari strategi pariwisata.
Pemerintah daerah, kata Fachriansyah, akan berupaya memaksimalkan integrasi antara sejarah, budaya dan sektor pariwisata. Pendekatan tersebut dinilai dapat menciptakan pengalaman wisata yang lebih kuat sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Warisan masa lalu dan tradisi lokal tidak hanya dilestarikan sebagai cagar budaya, tetapi juga dikemas menjadi produk wisata yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi daerah,” ujar Fachriansyah, Selasa (25/8).
Hotel dan Restoran Diposisikan sebagai Penggerak Ekosistem Wisata
Pengembangan wisata berbasis budaya membutuhkan keterlibatan dunia usaha. Dalam konteks tersebut, keberadaan hotel dan restoran tidak sekadar menjadi fasilitas pendukung wisatawan, tetapi dapat berperan sebagai bagian dari rantai promosi destinasi.
Ketua BPC PHRI Kabupaten Bangka dan Bangka Barat, Alfonsus Abi, menegaskan kesiapan pelaku usaha untuk mendukung program pemerintah daerah. Sektor perhotelan dan restoran dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan potensi budaya dan destinasi Bangka Barat kepada wisatawan.
Komitmen tersebut sekaligus membuka peluang terbentuknya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan pelaku usaha. Promosi destinasi, penyediaan pengalaman wisata, hingga pengembangan paket wisata berbasis budaya dapat dilakukan secara lebih terpadu.
Bagi Bangka Barat, integrasi tersebut menjadi peluang untuk mengubah kekayaan sejarah dan tradisi lokal menjadi daya tarik wisata yang tidak hanya mendatangkan kunjungan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.
Jika kolaborasi pemerintah, PHRI, pelaku UMKM, komunitas budaya dan masyarakat berjalan konsisten, sektor pariwisata Bangka Barat berpeluang tumbuh sebagai ekosistem ekonomi daerah yang menggabungkan pelestarian budaya, pengalaman wisata dan penciptaan lapangan usaha baru.
BB/at
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!