Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

PERTANIAN

Tradisi Tebar Koin Rp25 Juta di Ponorogo, Warisan Leluhur yang Menyatukan Warga

Redaksi Redaksi • 27 Aug 2026 • 51 • 0 • 3 menit
Tradisi Tebar Koin Rp25 Juta di Ponorogo, Warisan Leluhur yang Menyatukan Warga

PONOROGO — Tradisi tebar koin kembali menjadi bagian yang paling dinantikan warga dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Ishaq, Ponorogo, Rabu (26/8/2026).

Tahun ini, masyarakat menebarkan uang receh dengan total mencapai Rp25 juta. Warga pun antusias mengumpulkannya menggunakan berbagai wadah, mulai dari ember hingga sarung.

Takmir Masjid Al-Ishaq, Damhuri, mengatakan uang yang digunakan dalam tradisi tersebut berasal dari sedekah jamaah dan masyarakat. Kegiatan ini digelar setiap tahun dan telah menjadi tradisi yang terus dipertahankan.

Menurutnya, tebar koin bukan semata-mata tentang berapa banyak uang yang berhasil diperoleh warga. Di balik kemeriahan tersebut terdapat nilai kebersamaan, sedekah, serta upaya menjaga warisan budaya masyarakat.

Tradisi tersebut bahkan telah berlangsung sejak generasi terdahulu. Pada masa lalu, tebar koin menjadi salah satu cara untuk menarik masyarakat, khususnya anak-anak, agar datang ke masjid.

Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut terus berkembang dan tetap dipertahankan sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi. Kegiatan yang awalnya sederhana itu kini menjadi momentum yang mampu mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Usai tebar koin, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan kenduri. Sekitar 1.200 ingkung dibawa warga ke kawasan Masjid Al-Ishaq.

Ingkung tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus bentuk kebersamaan. Setelah doa selesai, hidangan kemudian dinikmati secara bersama-sama.

Tradisi ini menunjukkan bahwa warisan leluhur tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang kaku. Nilai di dalamnya dapat terus hidup selama masyarakat mampu menjadikannya sebagai ruang berbagi, bersyukur dan mempererat hubungan antarsesama.

Di tengah kehidupan yang semakin modern, tebar koin di Ponorogo menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi dapat memiliki makna lebih luas ketika di dalamnya terdapat sedekah, kebersamaan, rasa syukur dan pendidikan bagi generasi muda.

rg/pnr

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!