Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi PetaniLalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual PotensiIroni Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi?Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut PerbaikanStudi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di WilayahnyaPertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi PetaniLalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual PotensiIroni Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi?Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut PerbaikanStudi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya
BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Terjadi pada Agustus, Produktivitas Lahan Pertanian Terancam
Redaksi AIN
• 04 Aug 2026• 23• 0•3 menit
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi sepanjang Agustus 2026. Kondisi kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal berpotensi memberikan tekanan serius terhadap sektor pertanian, terutama di wilayah yang mengandalkan air hujan untuk irigasi.
Berdasarkan pemutakhiran prediksi musim kemarau BMKG, sekitar 369 Zona Musim (ZOM) atau hampir 48,84 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak kemarau pada Agustus. Sebagian besar wilayah juga diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal, sehingga risiko kekeringan meningkat. Dampak kondisi tersebut diperkirakan akan dirasakan oleh petani di berbagai daerah.
Berkurangnya ketersediaan air irigasi dapat menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, hingga meningkatkan risiko gagal panen apabila tidak diantisipasi sejak dini.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, dinas pertanian, dan para petani untuk segera melakukan langkah mitigasi. Beberapa upaya yang disarankan antara lain menyesuaikan jadwal tanam, menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, mengoptimalkan pemanfaatan embung dan waduk, serta menerapkan teknologi irigasi yang lebih.
Selain berdampak pada sektor pertanian, kemarau berkepanjangan juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), krisis air bersih, serta gangguan terhadap ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak musim kemarau tahun ini. (Jra/red)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!