BANYUWANGI (AINEWS )— Perhatian tertuju pada lahan bawang merah milik Pak Jemangin, petani di Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, yang memasuki masa panen setelah menerapkan pola pemupukan dengan memadukan ramuan pupuk organik Genderuwo dan Dogumon Gold.
Di tengah tantangan budidaya bawang merah, Pak Jemangin mencoba menerapkan inovasi pemupukan sebagai bagian dari perawatan tanaman sejak masa pertumbuhan hingga menjelang panen.
Saat panen berlangsung, bawang merah dicabut dari lahan dan dikumpulkan. Umbi yang telah berkembang menjadi bagian dari hasil budidaya yang kemudian dievaluasi oleh petani untuk melihat efektivitas pola perawatan yang diterapkan.
Menurut Pak Jemangin, perpaduan ramuan Genderuwo dan Dogumon Gold menjadi salah satu bagian dari pola pemupukan yang ia gunakan dalam budidaya bawang merah.
“Kami mencoba menggunakan ramuan Genderuwo yang dipadukan dengan Dogumon Gold. Perkembangan tanaman kami pantau dari awal sampai memasuki masa panen,” ujar Pak Jemangin.
Bagi Pak Jemangin, pengalaman di lahan menjadi proses penting untuk terus menemukan pola budidaya yang sesuai dengan kondisi tanah, cuaca, pengairan, dan kebutuhan tanaman.
Panen bawang merah di Desa Wonosobo ini juga menjadi gambaran bahwa inovasi pertanian terus berkembang dari tingkat petani. Berbagai metode pemupukan dan perawatan tanaman dicoba untuk mendapatkan hasil budidaya yang optimal.
Kisah Pak Jemangin menjadi salah satu cerita menarik dari Srono, Banyuwangi, sekaligus memperlihatkan bagaimana petani terus beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan pertanian.
AIN Agri Indonesia News akan terus hadir mengangkat cerita, inovasi, dan potensi petani daerah agar semakin dikenal luas serta menjadi inspirasi bagi generasi pertanian Indonesia.
Catatan: hasil budidaya dapat berbeda pada setiap lahan karena dipengaruhi varietas, kondisi tanah, cuaca, pengairan, teknik budidaya, serta penggunaan pupuk dan dosisnya.( mtr/red )
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!