Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

Indonesia–Australia Geser Arah Kemitraan, Ketahanan Pangan Jadi Taruhan

Redaksi Redaksi • 28 Aug 2026 • 152 • 0 • 3 menit
Indonesia–Australia Geser Arah Kemitraan, Ketahanan Pangan Jadi Taruhan

JAKARTA — Kemitraan pertanian Indonesia dan Australia mulai bergerak melampaui sekadar perdagangan komoditas. Penguatan rantai pasok, produktivitas peternakan, teknologi, dan kesehatan hewan kini menjadi agenda penting untuk menghadapi tekanan pangan global.

Arah tersebut mengemuka dalam pertemuan Kementerian Pertanian (Kementan) dengan delegasi National Farmers’ Federation (NFF) Australia di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Indonesia mendorong akses sapi bakalan dengan harga kompetitif serta penambahan sapi perah untuk memperkuat produksi daging dan susu dalam negeri. Namun, kebutuhan tersebut dinilai perlu diikuti peningkatan produktivitas peternak melalui perbaikan genetika, pakan, kesehatan hewan, dan teknologi.

Delegasi NFF yang dipimpin Su McCluskey juga menjajaki diversifikasi perdagangan serta peluang investasi dan kerja sama baru di sektor pertanian.

Kementan dan Australia turut menempatkan biosekuriti sebagai fondasi perdagangan. Penguatan surveilans, laboratorium, kesehatan hewan, dan kapasitas tenaga veteriner menjadi penting agar peningkatan arus perdagangan tidak membuka risiko baru terhadap sektor peternakan.

Kerja sama melalui Working Group on Agriculture Cooperation (WGAC) diharapkan memperluas kolaborasi pada inovasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Bagi Indonesia, tantangannya jelas: kerja sama internasional harus berujung pada peternakan nasional yang lebih produktif, pasokan pangan yang lebih stabil, dan peternak yang semakin berdaya saing—bukan sekadar peningkatan angka perdagangan.

Sumber; Diskominfo 

 

— Iklan — Menteri Pertanian
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!