Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

Peternakan

Indonesia–Chile Perkuat Diplomasi Peternakan, Bidik Pasar dan Penguatan Genetik Ternak

Redaksi Redaksi • 29 Aug 2026 • 123 • 0 • 3 menit
Indonesia–Chile Perkuat Diplomasi Peternakan, Bidik Pasar dan Penguatan Genetik Ternak

JAKARTA, Agrinews.com– Kerja sama peternakan Indonesia dan Chile mulai diarahkan pada agenda yang lebih konkret, bukan sekadar hubungan diplomatik. Pemerintah Indonesia melihat peluang untuk memperluas pasar produk unggas sekaligus mempercepat peningkatan produksi susu melalui penguatan teknologi dan sumber daya genetik ternak.

Peluang tersebut dibahas Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Suganda bersama Wakil Menteri Pertanian Chile Francesco Venezian di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya Indonesia mencari mitra yang dapat mendukung penguatan subsektor peternakan dari sisi produksi, teknologi reproduksi, kesehatan hewan hingga perdagangan.

Agung menyebut Indonesia dan Chile memiliki keunggulan yang dapat saling melengkapi. Menurut dia, hubungan kedua negara perlu diarahkan pada kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata bagi masing-masing pihak.

“Indonesia dan Chile perlu belajar bersama. Kita memiliki banyak hal yang bisa dibagikan, sekaligus banyak hal yang bisa dipelajari dari Chile,” kata Agung.

Surplus Ayam dan Telur Jadi Modal Perluasan Pasar. Salah satu kekuatan yang ditawarkan Indonesia adalah kapasitas produksi daging ayam dan telur. Kementan menyebut produksi kedua komoditas tersebut saat ini telah mampu memenuhi kebutuhan domestik dan menghasilkan surplus.

Kondisi itu dinilai dapat menjadi modal untuk memperluas akses pasar internasional sekaligus membuka peluang perdagangan dan investasi.

“Untuk subsektor peternakan, Indonesia saat ini sudah mampu mencukupi kebutuhan daging ayam dan telur. Kita bahkan memiliki surplus dan telah memenuhi kebutuhan beberapa negara,” ujar Agung.

Indonesia berharap Chile dapat menjadi salah satu negara yang melihat peluang tersebut, baik dalam konteks perdagangan produk maupun pengembangan kerja sama usaha.

Namun, penguatan kerja sama tidak hanya diarahkan pada komoditas yang produksinya telah kuat. Indonesia juga membawa persoalan yang masih membutuhkan penguatan, terutama produksi susu.

Sapi Perah dan Teknologi Reproduksi Jadi Agenda Strategis. Produksi susu nasional masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah peningkatan populasi serta mutu genetik sapi perah.

Dalam konteks tersebut, Indonesia menjajaki peluang pengadaan sapi perah, semen beku dan embrio dari Chile. Selain mendatangkan sumber daya genetik, Indonesia juga ingin mempelajari pengalaman Chile dalam membangun industri susu.

“Kami mengirimkan tim Indonesia ke Chile untuk melihat berbagai kemungkinan kerja sama. Tidak hanya produk susu dan daging babi, tetapi juga kemungkinan pengadaan sapi perah, semen, dan embrio,” kata Agung.

Kerja sama berpotensi diperluas melalui pertukaran teknologi dan keahlian, termasuk inseminasi buatan serta transfer embrio.

Bagi Indonesia, teknologi reproduksi tersebut penting untuk mempercepat perbaikan mutu genetik ternak sekaligus meningkatkan produktivitas tanpa semata-mata mengandalkan penambahan populasi.

Sistem Sanitari Chile Jadi Pembelajaran. Selain persoalan produksi, aspek kesehatan hewan menjadi bagian penting dalam pembicaraan Indonesia dan Chile.

Wakil Menteri Pertanian Chile Francesco Venezian menekankan kekuatan negaranya dalam membangun sistem sanitari. Sistem tersebut menjadi salah satu fondasi untuk menjaga kesehatan hewan, keamanan pangan dan daya saing produk pertanian serta peternakan di pasar internasional.

“Chile memiliki sistem sanitari yang kuat dan termasuk negara dengan standar sanitari yang tinggi di Amerika Selatan,” ujar Venezian.

Pengalaman Chile tersebut membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan dengan Indonesia, khususnya terkait sistem kesehatan hewan dan sanitari yang menjadi salah satu persyaratan penting dalam perdagangan komoditas peternakan.

Chile pada saat yang sama juga menyatakan ketertarikannya untuk mempelajari pengalaman Indonesia serta memperkuat keterlibatan sektor swasta dalam hubungan perdagangan kedua negara.

“Kami ingin berbagi pengalaman, belajar dari Indonesia, dan membangun pemahaman yang lebih baik antara kedua negara,” kata Venezian.

Diplomasi Peternakan Beririsan dengan Ketahanan Pangan. Pembicaraan Indonesia dan Chile tidak berhenti pada sektor peternakan. Diplomasi pertanian kedua negara juga menyentuh komoditas pangan, termasuk beras.

Kepala Biro Kerja Sama Pertanian Kementan Ade Candradijaya mengatakan ketersediaan beras nasional memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjalin kerja sama pasokan dengan negara lain.

Menurut dia, Indonesia sebelumnya telah memenuhi kebutuhan beras Malaysia dan kini membuka peluang kerja sama dengan negara lainnya.

“Kalau Chile memiliki kebutuhan tertentu, silakan sampaikan spesifikasi beras yang dibutuhkan masyarakat Chile agar Indonesia dapat menyesuaikan pasokannya,” kata Ade.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa diplomasi pertanian Indonesia mulai diarahkan untuk menghubungkan kapasitas produksi nasional dengan kebutuhan pasar luar negeri.

Menunggu Tindak Lanjut Konkret. Kementan menilai hubungan Indonesia dan Chile memiliki ruang pengembangan yang cukup luas, mulai dari perdagangan komoditas, investasi, sumber daya genetik, teknologi reproduksi hingga sistem kesehatan hewan.

Agung menegaskan kerja sama kedua negara harus dibangun berdasarkan keunggulan masing-masing dan menghasilkan manfaat yang dapat diukur.

“Kita ingin tumbuh bersama. Chile punya kekuatan di bidang pertanian, Indonesia juga punya komoditas dan pengalaman yang bisa dibagikan,” ujarnya.

Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil diplomasi tersebut berlanjut ke tahap teknis. Perluasan pasar, pengadaan sumber daya genetik, transfer teknologi maupun kerja sama investasi membutuhkan tindak lanjut antarlembaga dan pelaku usaha.

Dengan demikian, keberhasilan kerja sama Indonesia–Chile nantinya tidak hanya diukur dari intensitas pertemuan pemerintah, tetapi dari seberapa jauh kesepakatan tersebut mampu memperkuat produksi, membuka pasar baru dan meningkatkan daya saing petani, peternak serta pelaku usaha di kedua negara..

Sumber; Diskominfo 

— Iklan — PT INDOFAS AGRO NUSANTARA
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!