Rabu, 30 September 2026
Ikuti Kami
Breaking
Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya Pertanian Regeneratif Jangan Berubah Menjadi Beban Baru bagi Petani Lalanglinggah Didorong Jadi Desa Wisata, Tantangannya Bukan Sekadar Menjual Potensi Ironi Negeri Kelapa: Impor Santan dari Singapura Tembus 27 Ribu Ton, Ada yang Salah dengan Hilirisasi? Survei MBG Terbelah: Publik Bukan Menolak Program, tetapi Menuntut Perbaikan Studi Tiru ke P4S Asri Farm, Petani Pronojiwo Bidik Pengembangan P4S di Wilayahnya

Agri Indonesia News

AGRI NEWS

Kabupaten Puncak Siapkan 500 Hektare untuk Pengembangan Kopi Arabika, Kementan Dorong Penguatan Pertanian Papua

Redaksi Redaksi • 26 Aug 2026 • 189 • 0 • 3 menit
Kabupaten Puncak Siapkan 500 Hektare untuk Pengembangan Kopi Arabika, Kementan Dorong Penguatan Pertanian Papua

JAKARTA — Pemerintah Kabupaten Puncak, Papua Tengah, memperkuat langkah pengembangan sektor pertanian dan perkebunan dengan mengusulkan dukungan pemerintah pusat untuk pengembangan kopi arabika, tanaman pangan, sayuran, hingga peternakan.

Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Senin (24/8/2026). Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya Pemkab Puncak mendorong potensi pertanian daerah sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Dalam audiensi tersebut, Pemkab Puncak menyampaikan kesiapan menyediakan lahan hingga 500 hektare untuk pengembangan kopi arabika. Namun, Menteri Pertanian meminta pengembangan dilakukan secara bertahap dengan memulai dari lahan seluas 100 hektare.

“Untuk kopi arabika, coba mulai dulu 100 hektare. Kalau mampu dan berhasil, kita tambah sampai 500 hektare,” ujar Amran.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Puncak Viktor Nemba Pongsonggi, Kepala Bappeda Herman Wanma, serta jajaran staf Dinas Pertanian Kabupaten Puncak.

Kementerian Pertanian juga menyatakan kesiapan memberikan dukungan berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) skala kecil guna menunjang kegiatan budidaya. Pemkab Puncak selanjutnya diminta berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan untuk menyusun tindak lanjut teknis pengembangan kopi, peternakan, dan pertanian.

Menurut Amran, pengembangan pertanian di Papua perlu disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah. Pendekatan tersebut dinilai penting agar komoditas yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kondisi agroklimat dan mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Jika sesuai dengan potensi wilayah, aktivitas bercocok tanam diharapkan lebih optimal sehingga mendatangkan keuntungan dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.

Potensi Kopi dan Sayuran di Dataran Tinggi

Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal mengatakan wilayahnya memiliki karakteristik dataran tinggi yang potensial untuk pengembangan kopi arabika dan berbagai komoditas sayuran.

Menurutnya, penguatan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di 25 distrik Kabupaten Puncak.

“Kami menyampaikan potensi perkebunan kopi dan sayur-sayuran di 25 distrik yang ada di Kabupaten Puncak,” ujar Naftali.

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah membutuhkan dukungan pemerintah pusat untuk memperkuat kapasitas produksi pertanian dan perkebunan. Terlebih, menurut Naftali, selama dua tahun terakhir Kabupaten Puncak belum memperoleh alokasi bantuan program dari Kementerian Pertanian.

“Sudah dua tahun kami tidak menerima alokasi bantuan program dari Kementerian Pertanian. Di tengah kondisi efisiensi anggaran yang berdampak pada APBD daerah, kami sangat mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah pusat,” katanya.

Pertanian Papua dan Tantangan Perubahan Cuaca

Selain pengembangan kopi, Pemkab Puncak juga mendorong peningkatan produktivitas tanaman pangan dan peternakan. Penguatan sektor tersebut dinilai penting untuk mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Naftali juga menyoroti tantangan perubahan kondisi cuaca, termasuk fenomena El Nino yang dapat meningkatkan risiko gangguan produksi pertanian. Karena itu, dukungan teknologi, sarana produksi, serta pengembangan komoditas yang sesuai dengan kondisi wilayah menjadi kebutuhan penting.

Sementara itu, Kementerian Pertanian menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah menyiapkan alokasi anggaran sekitar Rp5 triliun untuk sektor pertanian di seluruh wilayah Papua pada periode 2025–2026.

Dukungan tersebut diarahkan antara lain untuk pembukaan lahan dan penyediaan sarana produksi pertanian. Pengembangan berbasis potensi lokal diharapkan mampu memperkuat produktivitas sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Bagi Kabupaten Puncak, rencana pengembangan kopi arabika hingga 500 hektare menjadi salah satu peluang untuk membangun komoditas unggulan daerah. Namun, keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kesiapan lahan, pendampingan teknis, sarana produksi, kelembagaan petani, serta keberlanjutan program dari hulu hingga hilir.

Dengan pengembangan yang dilakukan secara bertahap dan berbasis potensi wilayah, sektor pertanian di Kabupaten Puncak diharapkan tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan, tetapi juga mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Papua Tengah.

(Sumber : Diskominfo Puncak)

— Iklan — SELAMAT MAULID NABI MUHAMMAD
Redaksi
Penulis

Redaksi

Jurnalis senior AGRI INDONESIA NEWS yang fokus meliput kebijakan pertanian dan ketahanan pangan nasional selama lebih dari 8 tahun.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!