SURABAYA, Agrinews.com— Keanekaragaman hayati Indonesia kembali membuka ruang bagi penelitian untuk menemukan kandidat bahan obat dari tanaman lokal. Salah satu yang kini mendapat perhatian adalah tanaman majapahit (Crescentia cujete), yang berdasarkan penelitian mengandung beragam senyawa alami dan menunjukkan potensi aktivitas biologis terhadap target yang berkaitan dengan kanker payudara.
Penelitian berjudul “In Silico and Toxicological Evaluation of Crescentia Cujete Aqueous Extract: Potential Anticancer Activity Against Breast Cancer” yang ditulis Dr. Wimbuh Tri Widodo, M.Si menyoroti kandungan ekstrak air buah majapahit.
Hasil analisis menunjukkan terdapat sekitar 110 senyawa alami dalam ekstrak tersebut. Dua senyawa yang paling dominan adalah kaempferol-3-O-rhamnoside dan hesperidin.
Kedua senyawa tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan komputasi untuk melihat kemungkinan interaksinya dengan protein BRCA1 dan BRCA2. Kedua protein ini memiliki peran penting dalam mekanisme perbaikan kerusakan DNA dan memiliki keterkaitan dengan perkembangan sejumlah kanker, termasuk kanker payudara.
Hasil pemodelan menunjukkan kedua senyawa memiliki kemampuan berikatan dengan target protein tersebut. Temuan ini memberikan indikasi awal bahwa senyawa dalam buah majapahit layak diteliti lebih jauh untuk mengetahui kemungkinan aktivitas antikankernya.
Namun, temuan tersebut belum dapat diterjemahkan sebagai bukti bahwa buah majapahit mampu mengobati kanker.
Uji keamanan awal juga menjadi bagian penting dalam penelitian. Ekstrak air buah majapahit diuji menggunakan larva Artemia salina. Pengujian menghasilkan nilai LC50 sekitar 546 ppm, yang menunjukkan adanya aktivitas biologis ekstrak dan menjadi dasar untuk penelitian lanjutan.
Di sisi lain, analisis sifat kimia serta prediksi toksisitas terhadap senyawa tertentu menunjukkan adanya kemungkinan efek terhadap organ seperti ginjal, paru-paru, atau jantung apabila senyawa tersebut digunakan dalam bentuk murni dan pada dosis tertentu.
Karena itu, penelitian tidak berhenti pada potensi manfaat, tetapi juga menempatkan aspek keamanan sebagai bagian yang harus diperhatikan sebelum tanaman tersebut dikembangkan menjadi bahan obat.
Bukan Jamu Jadi Obat, tetapi Titik Awal Penemuan. Temuan mengenai majapahit penting dilihat dalam konteks penemuan kandidat obat, bukan sebagai klaim pengobatan kanker.
Pendekatan in silico pada dasarnya digunakan untuk memprediksi bagaimana suatu senyawa dapat berinteraksi dengan target biologis. Hasil tersebut tetap membutuhkan pembuktian melalui tahapan penelitian berikutnya.
Peneliti masih perlu melakukan pengujian pada kultur sel kanker, hewan percobaan, hingga uji klinis pada manusia untuk memastikan efektivitas, keamanan, dosis, mekanisme kerja, serta kemungkinan efek sampingnya.
Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan hasil penelitian awal tersebut sebagai alasan untuk mengganti pengobatan kanker yang telah terbukti secara medis dengan konsumsi tanaman atau ekstrak majapahit.
Meski masih berada pada tahap awal, penelitian ini memperlihatkan peluang strategis pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia melalui pendekatan sains modern.
Jika penelitian lanjutan mampu membuktikan manfaat dan keamanannya, tanaman lokal seperti majapahit berpotensi menjadi salah satu sumber senyawa untuk pengembangan kandidat obat berbasis bahan alam.
Lebih jauh, pengembangan tersebut dapat membuka peluang bagi riset farmasi nasional, pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan, serta peningkatan nilai ekonomi tanaman lokal.
Pesannya jelas: kekayaan hayati Indonesia tidak cukup hanya diwariskan, tetapi perlu diteliti. Namun, antara “berpotensi” dan “terbukti sebagai obat” terdapat proses ilmiah panjang yang tidak boleh dilewati.
Sumber; Ernawati
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!