BONE, SULAWESI SELATAN — Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Program ini diarahkan untuk memperkuat produksi protein hewani sekaligus membangun rantai usaha peternakan dari hulu hingga hilir.
HAT mengintegrasikan pembibitan, produksi day old chick (DOC), pakan, budidaya, pemotongan, cold storage, pengolahan hingga pemasaran. Peternak rakyat ditempatkan sebagai bagian utama agar memperoleh akses sarana produksi, teknologi dan pasar.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi harus memberi manfaat nyata bagi peternak. “Kalau peternak sejahtera, negara akan kuat,” ujarnya saat meninjau kesiapan HAT Bone pada Januari 2026.
Pengembangan HAT Bone telah dimulai melalui groundbreaking pada 6 Februari 2026 di Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre. Kawasan sekitar 110 hektare milik PTPN disiapkan untuk mendukung pembibitan, budidaya, pabrik pakan, fasilitas pemotongan, cold storage dan pengolahan.
PT Berdikari menyebut investasi tahap awal mencapai sekitar Rp627 miliar, meliputi pembangunan Parent Stock Farm berkapasitas sekitar 168 ribu ekor, feed mill 10 ribu ton per bulan, serta hatchery dengan kapasitas sekitar 500 ribu DOC per minggu.
General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari A.S. Hasbi Al Islahi menegaskan HAT bukan sekadar pembangunan fasilitas produksi.
“Konsepnya bukan hanya membangun kandang atau menghasilkan ayam, tetapi membangun ekosistem dari hulu sampai hilir,” katanya.
Bone juga memiliki potensi jagung yang dapat memperkuat bahan baku pakan. Luas pertanaman jagung di daerah tersebut disebut mencapai sekitar 60 ribu hektare dan pada musim tertentu dapat meningkat hingga sekitar 120 ribu hektare.
Investasi HAT diproyeksikan membuka lebih dari 1.000 lapangan kerja serta memberikan dampak ekonomi terhadap sektor logistik, transportasi, UMKM dan industri pengolahan.
Pemerintah Kabupaten Bone turut mendukung percepatan program melalui fasilitasi perizinan, lahan dan tenaga kerja lokal. Sementara itu, PT Berdikari menargetkan Bone dapat berkembang menjadi salah satu hub distribusi produk unggas untuk kawasan Indonesia Timur.
Bagi Kementan, keberhasilan HAT Bone tidak hanya diukur dari berdirinya fasilitas produksi, tetapi dari peningkatan produktivitas, kepastian pasar, terbukanya lapangan kerja dan meningkatnya pendapatan peternak rakyat.
be/sll
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!