LUMAJANG — Upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) melalui pendekatan ramah lingkungan terus dikembangkan di tingkat petani. Salah satunya melalui uji coba pengendalian nematoda di P4S Asri Farm, Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang.
Nematoda merupakan organisme berukuran sangat kecil yang dapat menyerang sistem perakaran tanaman. Gangguan pada akar dapat menyebabkan penyerapan air dan unsur hara terganggu sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal.
Berdasarkan pengamatan visual, organisme yang terlihat berbentuk memanjang menyerupai cacing dan mengarah pada kelompok nematoda. Apabila ditemukan pembengkakan atau puru pada akar, salah satu jenis yang perlu dicurigai adalah nematoda puru akar (Meloidogyne spp.). Namun, identifikasi jenis secara pasti tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Uji coba di Asri Farm diarahkan pada pemanfaatan agens hayati, antara lain PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) dan Trichoderma, sebagai bagian dari pengelolaan kesehatan tanah dan perakaran.
Penggunaan agens hayati diharapkan dapat membantu menekan perkembangan organisme pengganggu tanaman sekaligus menciptakan lingkungan perakaran yang lebih sehat. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, jenis tanaman dan tingkat serangan.
PPL Heru Afandi, Rowokangkung, berharap uji coba pengendalian nematoda di P4S Asri Farm dapat memberikan hasil positif dan menjadi contoh penerapan pengendalian OPT yang lebih ramah lingkungan.
“Pemanfaatan agens hayati seperti PGPR dan Trichoderma perlu terus dikembangkan melalui pengamatan dan uji lapangan, sehingga petani memiliki alternatif pengendalian yang efektif sekaligus mendukung kesehatan tanah dan tanaman,” ujar Heru.
Selain pemanfaatan agens hayati, pengendalian nematoda perlu dilakukan secara terpadu. Langkah tersebut dapat mencakup penggunaan bibit sehat, sanitasi lahan, pemberian bahan organik matang, rotasi tanaman serta mencegah perpindahan tanah dari lahan yang telah terinfestasi.
Melalui uji coba tersebut, P4S Asri Farm diharapkan dapat menjadi lokasi pembelajaran bagi petani dalam mengembangkan teknologi pengendalian OPT berbasis agens hayati. Pendekatan tersebut sekaligus mendorong praktik budidaya yang lebih sehat, efisien dan berkelanjutan.
sumber; Heru Afandi sp
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!